Pada Maret 2025, Civil Aviation Administration of China (CAAC) memberikan sertifikat operator udara (Air Operator Certificates) pertama di dunia untuk drone penumpang otonom kepada dua perusahaan China—EHang Holdings (melalui anak perusahaan dan joint venture Hefei HeYi Aviation)—sehingga China secara resmi memasuki era operasi komersial "flying taxis" tanpa pilot, awalnya untuk layanan wisata udara kota dan penerbangan berbayar di area yang disetujui seperti Guangzhou dan Hefei, menandai tonggak regulasi lengkap (type certificate, production, airworthiness, hingga operation) yang membuat EHang menjadi pionir global dalam urban air mobility berbasis eVTOL pilotless.
Pencapaian ini bukan hanya terobosan teknologi transportasi, melainkan manifestasi ambisi strategis China dalam "low-altitude economy" yang ditargetkan mencapai triliunan yuan: dengan regulasi yang cepat dan dukungan pemerintah, Beijing tidak hanya mengatasi kemacetan perkotaan serta emisi di kota-kota besar, tapi juga memposisikan diri sebagai pemimpin dunia dalam ekspor eVTOL (ke Timur Tengah, Eropa, dll.), sekaligus memperkuat narasi superioritas inovasi nasional di tengah persaingan global—di mana negara Barat masih bergulat dengan regulasi lambat dan uji coba terbatas—sehingga "flying taxis" menjadi alat soft power dan katalisator pertumbuhan ekonomi baru di era pasca-pandemi.https://x.com/hamzah_adiyusuf/status/2018492545446354985?s=20
Comments
Post a Comment